Tahap Kerohanian dalam Kehidupan Kekristenan

Tahap Kerohanian dalam Kehidupan Kekristenan

Mengapa Anda Harus Melalui 5 Level Perkembangan Rohani?
Melihat dari perjalanan iman saya dan orang percaya yang lain, saya menyimpulkan ada 5 tingkatan perkembangan rohani yang harus kita lalui sebagai anak Tuhan. Observasi ini saya lakukan berdasarkan pengalaman saya selama lebih dari 30 tahun saya melayani sebagai pendeta dan profesional sejak tahun 1984.

 

5 tingkatan tersebut sangat penting untuk kita mengerti sehingga kita tidak bingung apabila harus melalui perubahan dari satu tingkatan ke tingkatan selanjutnya. Tetapi ada beberapa orang yang tidak berkembang dalam iman mereka karena ketidaktaatan pada panggilan Tuhan. Hasilnya, mereka tidak mengalami apa-apa. Tidak ada waktu yang ditentukan untuk setiap tingkatan tersebut. Dan kita dapat mengalami dua tingkatan dalam waktu yang bersamaan. Melalui pengamatan umum, saya temukan suatu kebenaran. Pada intinya artikel ini bertujuan untuk menguatkan anda sebagai orang percaya yang harus melalui 5 tingkatan ini, seberapa sulitnya itu.

 

Kelima tingkatan dalam perkembangan rohani yang saya maksud adalah:

 

1. Bulan Madu
Dalam level ini, kita sangat bersemangat karena kita baru saja menemukan keselamatan. Yesus berkata untuk bersukacita karena nama kita tercatat dalam buku kehidupan (Luk 10:17-20). Dalam level ini, kita tidak memikirkan tentang panggilan kita, hanya terfokus pada kehidupan yang baru di dalam Kristus. Bagi kita, tidak ada yang lebih penting dari Yesus. Seperti pada saat kita jatuh cinta kepada seseorang, berdebar-debar dan perasaan romantis yang kita tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata karena begitu indahnya. Kita tidak pernah pikirkan orang itu akan meninggalkan kita. Tuhan menunjuk kita sejalan dengan berjalan ke level selanjutnya.

 

2. Mengalami
Dalam level ini, kita mulai belajar bagaimana untuk berjalan bersama Tuhan, bagaimana memproses iman kita di tengah tantangan dan mengalami Tuhan dalam setiap menit hidup kita. Kita juga belajar bagaimana mengaplikasikan iman kita dalam kehidupan sehari-hari, dalam keluarga, dalam pekerjaan dan setiap tanggung jawab yang kita miliki. Kita juga belajar bagaimana meresponi dan bertobat di tengah masalah dan dosa kita. Kita juga belajar “untuk mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar” (Filp 2:12b). Level ini menggunakan ujian dan pencobaan untuk kemurnian hati, motivasi dan komitmen kita kepada Kristus. Yesus juga memberikan perumpamaan tentang penabur dan benih yang menggambarkan bagaimana orang menjauh dariNya, karena tidak memiliki dasar yang kuat karena penganiayaan dan kurang pengetahuan akan firman Tuhan (Mark 4) .

 

3. Menemukan
Permulaan dari level ini yaitu kita sadar tujuan dan panggilan kita dalam Kristus. Ini ada suatu level yang sangat menarik ketika kita menyadari bahwa kita bukan hanya diselamatkan untuk pergi ke surga tetapi juga berjalan dalam tujuan ilahi. Ini adalah saat kita pertama kali sadar Tuhan telah memanggil kita untuk suatu tujuan besar dan berpengaruh bagi orang lain. Ini adalah waktu dimana Roh Kudus menantang kita untuk bertanggung jawab sebagai alatNya dan menunjukkan kerajaanNya di bumi seperti di surga. (Luk 11:2-4)

 

4. Semangat Untuk Berjalan Dalam Tujuan dan Identitas di Dalam Kristus
Setelah kita menemukan bahwa kita memiliki tujuan, kita mengenal setiap talenta, kemampuan dan kepribadian, kita menjadi peka akan panggilan Tuhan dalam hidup kita. Dalam level ini, kita belajar bagaimana “hidup dengan tujuan” dan mulai menginvestasi waktu kita untuk belajar dan bertumbuh dalam kapasitas sebagai pengikut Kristus. Kita belajar bagaimana  menaruh waktu kita untuk orang lain. Dengan cara demikian kita dapay fokus pada panggilan Tuhan yang telah kita terima. Sekalipun level ini sangat menarik tetapi bukanlah yang paling penting. Saya pikir ini adalah level yang paling membanggakan. Tapi bukan, level yang terakhir ternyata yang paling penting.

 

Tahap-Kerohanian-dalam-Kehidupan-Kekristenan

 

5. Menjadi Satu Tubuh dengan Kristus
Di level terakhir ini, kita mengalami menjadi satu tubuh dengan Kristus. Kita tidak lagi mementingkan tujuan ataupun identitas kita karena kita telah bersatu dengan Dia (Gal 2:19-21). Doa Yesus kepada Bapa supaya murid-muridNya menjadi “satu” dengan Bapa dan diriNya (Yoh 17:20-24).  Meskipun elemen kesatuan itu kita rasa tidak ada hubungannya dengan kita, tapi dalam pengalaman saya kesatuan ini dapat dialami oleh setiap kita. Beberapa orang mungkin menganggap seperti pengalaman mistis.

 

Saya menemukan level ini ketika saya bosan memikirkan jati diri dan tujuan saya. Bukan berarti saya tidak tertarik lagi pada panggilan hidup saya, tetapi sebaliknya saya lebih bersemangat dalam melayani Tuhan. Saya menemukan diri saya lebih berapi-api dalam Tuhan ketika saya tahu saya tetap berjalan di dalam Dia. Saya telah menemukan Yesus adalah segalanya (Kol 1:16-19). Yang saya maksudkan adalah kesatuan ini, karena kenyataan bahwa kita telah kehilangan diri kita untuk menjadi satu dengan Kristus dalam kerinduan hatiNya, rencana dan kehendakNya. Kita berjalan dalam kebebasan dan persekutuan yang hampir tidak terputus pada saat kita menghadapi masalah dalam dunia ini. Anda tidak hanya menghargai waktu penyembahan anda, tetapi anda juga senang bisa melakukan kehendakNya, tidak peduli seberapa menyakitkan pada saat itu. (Lihat Ibr 12:1-2).

 

Anda belajar bahwa bentuk tertinggi dari mengasihi Tuhan bukanlah menikmati hadirat Tuhan, tapi menyangkal kedagingan kita dan menaatiNya tanpa mengerutu ataupun kesal (Luk 22:42; Rom 6:6-9)

 

Saya juga menemukan ketika kita bersemangat dengan tujuan Tuhan dalam hidup kita, bisa saja tentang kita dan bukan Dia. Berapi-api dengan tujuan kita masih menunjukkan perkembangan rohani daripada ketiga level diatas, tapi itu bukanlah level iman dan praktek yang tertinggi. Rasul Paulus berkata panggilan tertinggi dari Tuhan adalah bila  ia menganggap semuanya rugi karena pengenalan akan Kristus (Fil 3:4-11).

 

Kalau anda berpikir puas sudah di level terakhir dalam perkembangan rohani, itu adalah godaannya. Dibutuhkan waktu bertahun-tahun dalam kehancuran hati, tenggelam dalam firman Tuhan dan pertumbuhan rohani sebelum anda bisa menangkap arti kesatuan yang sesungguhnya. Tidak akan ada orang yang benar-benar dapat mencapai level ini karena pengetahuan kita akan Tuhan dan kasihNya yang terbatas. Saya pun sedang mengalami level ini, karena saya bosan dengan semua pengakuan manusia dan semua pencapaian yang saya miliki dibandingkan dengan Dia dan menjadi serupa dengan gambaranNya. (Rom 8:29-30)

 

Kesimpulannya, melalui artikel ini marilah kita berusaha sungguh-sungguh mengenal Tuhan (Hosea 6:3a) dan “Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah. (Ef 3:16-19)

 

Tahap-Kerohanian-dalam-Kehidupan-Kekristenan

 

Saksikan Lagu Pujian yang sangat menjadi berkat bagi Indonesia

 Sumber :
Joseph Mattera adalah seorang penulis, pembicara tentang masa depan, penerjemah dalam bidang kebudayaan dan ahli theologi yang memiliki misi untuk membawa dampak bagi para pemimpin yang akan memimpin bangsa, termasuk The United States Coalition of Apostolic Leaders (uscal.us). Beliau juga memiliki blog dalam Charisma Magazine “The Pulse” . Dapat mengunjungi website josephmattera.org.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *